Prinsip ini mengingatkan pada ajaran Tuhan Yesus Kristus. Ia memberikan talenta kepada setiap orang sesuai dengan kemampuan masing-masing. Sayangnya, banyak yang menguburkan talenta itu karena merasa terlalu kecil atau tidak berarti. Mereka enggan membagikannya kepada orang yang lebih membutuhkan, sehingga talenta itu terpendam dan tidak memberi manfaat bagi siapa pun.
Saya pernah mengalami hal ini sendiri. Suatu hari, seorang teman meminta saya mengajarinya bermain gitar. Ia tidak meminta banyak—hanya kunci dasar saja. Tetapi saya menolak, karena merasa kemampuan saya tidak seberapa. "Ah, saya saja belum bisa main gitar dengan benar," pikir saya. Padahal saya tahu kunci dasar yang ia maksud.
Sebulan kemudian, saya melihat dia memegang gitar dan memainkan lagu "Semua Baik" dengan kunci dasar yang sederhana. Setelah selesai, ia tersenyum dan bertanya, “Benar kan, ini kunci dasarnya, kak?”
Saya terdiam. Ada rasa malu yang menyelinap. Dalam hati saya berkata, “Ternyata hal yang saya anggap kecil sangat berarti baginya.” Dengan tersenyum, saya menjawab, “Iya, bro.”
Sejak saat itu, saya sadar—Tuhan memberi kita hal-hal kecil bukan untuk disembunyikan, tetapi untuk melengkapi orang lain yang membutuhkannya. Dia ingin kita setia dalam perkara kecil, sebab dari sanalah Dia mempersiapkan kita untuk perkara yang lebih besar.
Jangan pernah meremehkan apa yang kita miliki, sekecil apa pun itu. Anggaplah sebagai berkat yang bisa kita bagikan. Gunakan talenta itu, walau sederhana, agar hidup kita dipakai Tuhan untuk memberkati dan menguatkan orang lain. Sebab apa yang terlihat kecil di mata kita, bisa menjadi sangat besar di mata orang yang menerimanya.

Komentar
Posting Komentar