KESELAMATAN BUKAN HASIL USAHA SENDIRI

Pada suatu malam minggu, saya menelpon sahabat lama saya, Veri. Suaranya di seberang terdengar hangat, seakan waktu tak pernah memisahkan pertemanan kami. Dalam percakapan itu, saya mengajukan sebuah pertanyaan yang sering membuat orang terdiam sejenak:

"Ver, bagaimana kita bisa mencapai surga yang kudus itu?"

Ia menjawab mantap, "Ya… dengan berbuat baik, membantu sesama, dan bermeditasi supaya terhindar dari dosa. Kalau kita konsisten, kita akan selamat dan akhirnya mencapai kesempurnaan di surga, atau Nirvana."

Saya terdiam, bukan karena setuju, tapi karena teringat perjalanan hidupnya. Veri dulu sudah menjadi Kristen sejak kelas dua SD. Namun, seiring berjalannya waktu, ia kembali memeluk agama Buddha dan bahkan dibaptis di vihara.

Jawaban itu membuat saya merenung. Banyak orang berpikir seperti Veri—bahwa keselamatan dapat diperoleh dari usaha sendiri. Ada yang rajin memberi sedekah kepada orang miskin, memberikan perpuluhan kepada gereja, berbuat baik kepada saudara atau tetangga, bahkan melakukan semadi atau meditasi untuk menghindari dosa. Semua ini dilakukan semata-mata demi mendapatkan keselamatan.

Namun, bila keselamatan memang bisa diraih hanya dengan usaha manusia, bukankah itu akan membuat kita merasa cukup hanya dengan “berbuat baik”? Bukankah itu akan menumbuhkan sikap seolah kita bisa menyelamatkan diri sendiri—bahkan orang lain—tanpa membutuhkan Tuhan?

Alkitab berkata lain. Dalam Efesus 2:8 tertulis, "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah." Dalam Perjanjian Lama, keselamatan sering berarti pembebasan umat-Nya dari bahaya (1 Samuel 7:8). Sedangkan dalam Perjanjian Baru, puncak keselamatan terjadi ketika Yesus bangkit dari kematian—momen paling menentukan bagi manusia.

Dalam bahasa Yunani, keselamatan disebut sōtēria, dan dalam bahasa Inggris safety— perlindungan mutlak yang sempurna. Itu berarti, keselamatan bukanlah hasil jerih payah kita, melainkan anugerah Allah yang diterima lewat iman kepada Yesus Kristus, Sang Penolong sejati.

Malam itu, setelah kami menutup telepon, hati saya diliputi rasa syukur. Betapa luar biasanya kasih Allah yang memberi keselamatan secara cuma-cuma. Bukan karena saya pantas, bukan karena saya mampu, tetapi karena Yesus telah lebih dulu mengasihi dan menebus saya.

Efesus 2:8 sebab karena kasih karunia kamu di selamatkan oleh iman, itu bukanlah hasil usahamu tetapi pemberian Allah.  


Komentar