Kepala Singa di Cermin: Sebuah Pengalaman Rohani yang Menggetarkan
Pagi itu, Rabu, 19 Oktober 2016, sekitar pukul 07.05 hingga 07.45 WIB, suasana asrama begitu tenang. Setelah sarapan, saya kembali ke kamar, merebahkan tubuh di tempat tidur. Posisi saya persis seperti di foto yang pernah saya simpan. Entah mengapa, hanya beberapa menit setelah berbaring, saya tertidur tanpa terasa.
Namun, yang terjadi berikutnya sungguh di luar nalar. Saya merasakan sesuatu yang aneh—roh saya keluar dari tubuh, lalu berjalan mengelilingi kamar.
Tiba-tiba, dari tembok di dekat meja belajar dan lemari pakaian, air mengalir membasahi permukaan kayu. Anehnya, di luar ruangan gelap gulita, tetapi tidak ada hujan. Bangunan ini sangat kokoh, mustahil ada kebocoran, apalagi kamar saya berada di lantai dasar.
Di sudut kamar, ada sebuah kaca besar. Saya mendekat untuk bercermin. Tubuh yang saya lihat di pantulan itu memang tubuh saya—namun wajahnya… sungguh mengejutkan. Bukan wajah yang saya kenal. Di balik pantulan itu, wajah saya berubah menjadi kepala singa, lengkap dengan gigi taring yang panjang.
Saya tak percaya dengan apa yang saya lihat. Saya berpindah ke dinding yang tak memiliki kaca. Aneh, dinding itu justru memunculkan pantulan wajah saya—wajah yang aneh, sama sekali tidak tampan, bahkan menyeramkan. Karena penasaran, saya kembali mencari tempat lain untuk bercermin. Kali ini, saya berdiri di depan pintu. Tapi pintu itu pun memunculkan wajah saya… lebih mengerikan dari sebelumnya: kepala singa, gigi taring, mata merah menyala.
Rasa takut bercampur kecewa memenuhi hati saya. Saya ingin kembali ke tubuh saya. Ketika roh saya kembali masuk, tiba-tiba saya menyadari ada yang janggal—kepala saya tidak berada pada posisi yang sama dengan tubuh yang sedang berbaring. Saya melihat jelas tangan saya bertumpuk seperti dalam foto, namun kepala seolah berada di posisi yang berbeda.
Ketakutan mulai mencekik. Saya memanggil orang-orang di asrama, menyebut nama mereka satu per satu, berharap ada yang membangunkan saya. Tidak ada yang datang. Kamar semakin gelap, meski saya tahu pagi itu seharusnya cerah. Saya memanggil Tuhan, meminta pertolongan-Nya, tetapi seolah tidak ada jawaban. Getaran takut itu merambat ke seluruh tubuh roh saya.
Putus asa, saya berkata dalam hati, "Tuhan, biarkan aku mati. Izinkan aku bersama-Mu di surga." Tapi saya tidak bisa mati. Roh saya terjebak di antara dua dunia.
Akhirnya, dengan seluruh tenaga yang tersisa, saya memaksa tubuh saya bergerak. Perlahan, kepala saya bisa digerakkan, dan saya pun tersadar. Saat bangun, saya mendapati posisi tubuh saya persis sama seperti sebelum tertidur, seolah tak ada yang berubah—kecuali satu hal: keyakinan saya bahwa roh itu benar-benar ada.
Selama ini saya percaya pada Alkitab, namun selalu ada sedikit keraguan. Pagi itu, semua keraguan itu lenyap. Saya juga menyadari satu hal yang menggetarkan hati: di alam roh, tak ada seorang pun yang bisa menolong kita—bahkan diri kita sendiri. Satu-satunya harapan hanyalah Tuhan.
Namun yang membuat saya gelisah hingga kini adalah satu pertanyaan:
Apakah mungkin roh saya berbeda wujud dengan tubuh saya?
Di cermin alam roh itu, saya melihat manusia berkepala singa—mirip seperti yang digambarkan dalam Kitab Wahyu. Apakah itu pertanda karakter sejati saya? Atau sebuah pesan rohani yang belum saya pahami?

Komentar
Posting Komentar